27 April 2008
This day it’s very disapointed for me !
“Wong wedok ndi seng gelem dimadu?”
“Masio di kek’i donyan sak pirang-pirang?”
“Masio tetep disayang-sayang ben ndino?”
Hiks…hiks…
Tangismu yang sangat hebat disertai dengan air deras yang keluar dari matamu yang sayu itu, bahkan ingus kesedihanmu yang kamu tumpahkan semua didadaku. Astaqfirullah ‘al’adzim… Aku hanya bisa beristighfar dalam hati. Bukan karena aku tidak mempunyai ilmu tentang Aqidah, tapi aku hanya berharap semoga aku (yang terpaksa sekali) memelukmu dengan harapan agar kamu juga merasakan bahwa aku bersimpati tehadap kesedihanmu itu. Secara tidak sadar aku juga menitikkan air mata dengan memelukmu.
Ya Allah… Cobaan apa yang Engkau berikan kepada sahabatku dan sekaligus saudariku ini? Dosa apa yang dia perbuat di masa lalu sehingga dia mendapatkan kesedihan seperti ini? Sungguh! Hamba memohon jawaban dari arti hikmah dibalik semua kejadian ini. Hamba mohon berikanlah jawaban..
Tri Arti.. Tangismu yang semakin keras dan semakin sesenggukan sembari memelukku dengan erat, seakan-akan kamu juga butuh ketegasan dari jawaban ini semua. Terus terang aku tidak menyangka dengan apa yang kamu ceritakan semuanya tadi. Seorang ibu rumah tangga, dikaruniai 2 anak laki-laki yang sangat sehat dan sangat energik. Seorang wanita yang aku kenal sebagai jagoan di bilangan kampung Surabaya, hingga tidak seorang pun laki-laki berani berbuat macam-macam terhadapmu karena mereka biasa jahil terhadap yang lain selain kamu pasti akan gentar ilmu kesenian Pencak Silat yang tak pernah kamu lewatkan sekalipun latihan Pencak Silat bersama-sama. Bahkan kamu yang pernah mematahkan jurusku di antara junior-junior yang lain dan yang pernah membuat aku terkagum-kagum akan semangatmu, idealismu dalam melestarikan warisan kebudayaan kesenian asli Indonesia.
“Pencak Silat adalah kesenian Asli Indonesia dan seni adalah bagian dari hidupku, maka aku berhak untuk mengangkat derajat Indonesia dengan melestarikannya !” tegasmu dengan lantang saat aku bertanya, apakah pantas sabuk kenaikan tingkat dan predikat pelatih ini aku wariskan ke kamu.
Hiks..hiks..
Tapi, sekarang ini dan saat ini, di dalam pelukanku, kamu menangis dengan sesenggukan tak tertahankan dengan kepedihan yang kamu alami saat ini. Sahabat sekaligus saudariku yang sangat perkasa dan jagoan ini tak sanggup menghadapi kejadian seperti ini.
Jancok! Seolah-olah judul lagu si Rama Aiphama (penyanyi dangdut) “Buah Simakala” semakin dapat aku resapi artinya di otakku yang sudah panas ini dan di hatiku yang penuh dengan kebencian sekaligus simpati.
Bojomu / Suamimu iku yo sak tunggal meguru karo aku, yang menjalin hubungan persaudaraan dengan semua satu tingkatan, yang pernah “bersabung” untuk ujian kenaikan tingkat dan yang pernah bersama-sama dijuluki petarung no satu di tingkat wilayah, tapi saiki (sekarang)?
Jancok! Umpatku pada kekesalan simakala yang diberikan kepadaku. Kenapa diberikan
kepadaku? Kenapa ada kejadian seperti ini? KENAPA??
Ya Allah.. Hamba mohon berikanlah arti jawaban ini semua…
Kalian yang yang saat ini di depanku, membuat menimbulkan rasa kebencian dan simpati, permusuhan dan kesedihan. Lalu aku harus bagaimana? Kalau saja 2 putra kalian yang sampai saat ini hanya bisa panggil aku ISAS, mungkin saat ini juga aku bunuh suamimu, walau secara pasti aku akan di proses hukum, aku tak peduli. Setidaknya dapat mengurangi rasa kepedihan yang sangat perih tiada terkirakan, mengurangi kebencian yang sudah memuncak di otakku yang kecil ini.
“Isas, isas… Mama nangis kenapa? Isas juga nagis kenapa?” tanya putra kalian yang tua, yang saat ini duduk di kelas TK A, sambil menenteng es teh yang dibungkus dengan plastik.
Ya Allah… Berikanlah hamba kepandaian dan kekuatan untuk dapat menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh si Damar ini.
“Isas anis.. ama anis..” tegasmu hai Iqbal dengan membawa secarik kain yang mungkin artinya untuk melap air mata kami dan membersihkan ingus yang sudah keluar dari tadi. Seandainya hari ini bukan tanggal 27, mungkin aku akan tertawa terbahak-bahak dengan gaya cadelmu yang sangat khas untuk seukuran anak 2 tahun. Tapi maafkan aku, aku tidak isa tertawa saat ini dan bahkan tidak isa menjawab pertanyaan kakakmu Damar. Kalian yang aku anggap sebagai anakku sendiri, sungguh aku tak tega dengan nasib masa depan kalian…
Hiks.. hiks..
Astaghfirullah’al’adzim…
Subhanallah..
Alhamdulillah..
Allahu Akbar..
Aku bingung, kepalaku pusing, tapi hanya kata-kata itu yang terngiang-ngiang di kepalaku yan biasa aku ucapkan sewaktu dzikir setiap selesai sholat fardhu, atau mungkin pengetahuanku terhadap Ilmu ke-Islaman sangat kurang? Sehingga hanya kata-kata itu yang keluar secara spontan di kepalaku, di telingaku, di mulutku, di hatiku… Aku Bingung !!
Dengan pelan aku lepaskan pelukanmu dariku, bukan karena aku tidak suka dipeluk
seorang wanita, bukan karena aku baru ingat bahwa agama Islam melarang bersentuhan dengan yang bukan muhrimnya, bukan aku risih dengan ingusmu, tapi aku melihat sekilas pandangan yang tidak mengenakkan hati dari mata kedua mertuamu, ortu suamimu, yang saat ini ikut membahas masalah kalian. Dengan serta merta setelah aku lepaskan pelukanmu, dengan cepat-cepat ibu mertuamu bersimpuh di depanmu sambil memohon ampun meminta maaf atas dosa-dosa yang dilakukan anaknya yang sekarang adalah suamimu selama 9 tahun, mereka juga merasa gagal sebagai orang tua yang tidak dapat mendidik anaknya. Kamu malah menagis dengan hebat begitu juga ibu mertuamu.
Sementara di pojok sana, suamimu yang sudah berbuat diluar batas asusila sebagai sorang suami dan seorang laki-laki, tidak berani melihat tatapan mataku yang tajam, ber”air” tapi penuh dengan kebencian yang menyala-nyala bagai Api Neraka Ghosiyah yang siap membakar para kafir penentang Ke-Tauhidan Allah SWT.
“Raimu opo gak ndelok anakmu?!!” teriakku pada suamimu, sehingga kalian yang bertangis-tangis langsung berhenti melihat ke arahku dan merasa keheranan dengan
kemarahanku ini.
“Ayo tokno gamanmu saiki, getih’e sopo seng entek disek nek pancen MATAMU gak iso ndelok anakmu!!” teriakku lagi yang saat ini tidak dapat berpikir secara rasional, bahkan ilmu pengetahuan agama Islam yang mengajarkan kedamaian yang seharusnya aku terapkan dan aku amalkan kepada siapa saja tidak dapat aku lakukan, yang keluar saat ini hanya “Cara Laki-laki Surabaya” menyelesaikan masalah. Sungguh saat ini aku sipa melaksanakan “Tata Cara Surabaya” yang klasik itu.
Entah datang darimana, apakah kekuatan Allah atau memang karena emosiku yang sudah memuncak di ambang batas. Hpku tiba-tiba berbunyi..ada SMS masuk.
“NR37683, sudah transfer 100683 via bank BCA tgl 27-04..makasich.” dari salah satu dealerku rupanya.
Astaghfirullah’al’adzim… Istighfarku dengan segera..
Wassalamu’alaikum..pamitku kepada kalian yang dengan segera aku pergi meninggalkan kalian dan bahkan suamimu yang masih tidak berani melihatku. Sambil berjalan menuju ke ATM yang terdekat aku berbicara dalam hati, “Maafkan aku, Tri. Aku harus ke arah yang lebih rasional, bukan aku tidak berniat membantu masalahmu tapi saat ini aku masih banyak dibutuhkan yang lainnya, karena aku juga sudah berjanji pada Allah, jika bisnis ini berhasil dan berkembang dengan pesat, sebagian keuntungan bisnis ini aku gunakan untuk sodaqoh dan sedekah kepada fakir miskin, karena aku juga pernah miskin sehingga pernah merasakan oleh para fakir itu. Maaf aku punya tanggung jawab yang harus aku laksanakan, semoga masalah Rumah Tangga kalian dapat segera terselesaikan dengan akal sehat, yang penting
anak-anakmu yang harus kamu perhatikan. Mereka butuh belaian kasih sayang seorang
ibu Pendekar Pencak Silat.” sambil membersihkan ingusmu tadi.
Leave a Reply